SOERATKABAR.COM, Tanjungpinang – Transformasi digital kini menjadi kebutuhan utama bagi pelaku usaha agar mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan ekonomi yang semakin cepat. Untuk mendukung hal tersebut, Anggota DPD RI/MPR RI Daerah Pemilihan Kepulauan Riau, Dwi Ajeng Sekar Respaty, S.H., M.Kn., kembali menginisiasi pelatihan AIM ASEAN (AI for MSME Advancement in ASEAN) Roadshow di Kota Tanjungpinang, 5–6 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Wali Kota Tanjungpinang ini merupakan hasil kolaborasi antara ASEAN Foundation, KUMPUL Impact, serta didukung Pemerintah Kota Tanjungpinang. Program tersebut bertujuan memperluas pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kepulauan Riau.
Setelah sukses digelar di Batam dan mendapat antusiasme tinggi dari pelaku usaha, AIM ASEAN Roadshow kini menyasar Tanjungpinang agar semakin banyak UMKM memiliki kemampuan memanfaatkan AI secara produktif, aman, dan bertanggung jawab.
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya dikenalkan pada konsep dasar AI, tetapi juga mendapatkan pendampingan untuk mengimplementasikan berbagai perangkat AI dalam kegiatan bisnis sehari-hari, mulai dari strategi pemasaran, pengelolaan informasi, peningkatan produktivitas, hingga pengambilan keputusan berbasis data.
Anggota Komite IV DPD RI yang membidangi ekonomi dan pembangunan daerah itu menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi penting dalam menghadapi era ekonomi digital.
“Artificial Intelligence bukanlah teknologi yang hanya dapat dimanfaatkan perusahaan besar. Justru UMKM memiliki peluang besar untuk menggunakannya sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, dan memperkuat daya saing. Karena itu, yang kita bangun bukan hanya kemampuan menggunakan AI, tetapi juga kesiapan pelaku usaha untuk beradaptasi dengan perubahan ekonomi yang semakin berbasis teknologi,” ujar Dwi Ajeng Sekar Respaty.
Program AIM ASEAN sendiri merupakan inisiatif regional selama dua tahun yang dijalankan ASEAN Foundation bersama Asian Venture Philanthropy Network (AVPN) melalui AI Opportunity Fund: Asia Pacific, dengan dukungan Google.org dan Asian Development Bank (ADB). Program tersebut juga mendapat dukungan resmi dari ASEAN Coordinating Committee on Micro, Small and Medium Enterprises (ACCMSME) sebagai bagian dari percepatan transformasi digital UMKM di Asia Tenggara.
Di Indonesia, implementasi program dijalankan oleh KUMPUL Impact dengan target meningkatkan kapasitas 32.000 UMKM melalui pemanfaatan AI secara strategis dan berkelanjutan.
Selama dua hari pelatihan, peserta mengikuti empat materi utama, yakni pengenalan AI dan penerapannya dalam bisnis, tahapan adopsi AI bagi UMKM, prinsip penggunaan AI yang bertanggung jawab, serta strategi implementasi AI yang efektif dan berkelanjutan.
Project Manager AIM ASEAN dari ASEAN Foundation, Eci Ernawati, mengatakan bahwa program tersebut tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga mendorong terciptanya kesempatan yang lebih setara bagi pelaku usaha.
“Inisiatif ini bukan semata-mata tentang teknologi, tetapi juga tentang menciptakan kesempatan yang setara, memperkuat kapasitas, dan memberdayakan masyarakat. ASEAN Foundation berkomitmen bekerja sama dengan berbagai mitra di Indonesia agar kurikulum dan metode pelatihan sesuai dengan kebutuhan UMKM lokal melalui pendekatan yang praktis, inklusif, dan mudah diakses,” ujarnya.
Selain mendapatkan pelatihan teknis, peserta juga memiliki kesempatan berdiskusi dengan mitra swasta serta membangun jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan yang mendukung pengembangan UMKM.
Program Lead KUMPUL Impact, Maria Silangen, mengungkapkan bahwa pihaknya telah membangun kolaborasi dengan 40 mitra dari berbagai sektor, mulai dari pemerintah, swasta, akademisi, komunitas hingga media.
“Melalui kolaborasi tersebut, KUMPUL Impact telah mensertifikasi lebih dari 17.400 pengusaha di 36 provinsi di Indonesia. Tanjungpinang menjadi titik ke-24 AIM ASEAN Roadshow dan menjadi pencapaian yang luar biasa dalam 10 bulan terakhir,” katanya.
Menurut Maria, sinergi lintas sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem kewirausahaan daerah sehingga transformasi digital tidak hanya meningkatkan literasi teknologi, tetapi juga menghasilkan inovasi, produktivitas, dan nilai tambah bagi pelaku usaha.
Berdasarkan data yang menjadi dasar penyusunan program AIM ASEAN, baru sekitar 27 persen UMKM di Indonesia yang memanfaatkan teknologi digital secara optimal. Padahal, digitalisasi diyakini mampu meningkatkan produktivitas nasional apabila diadopsi secara luas oleh sektor UMKM.
Melalui penyelenggaraan AIM ASEAN Roadshow di Tanjungpinang, Dwi Ajeng berharap semakin banyak pelaku UMKM di Kepulauan Riau mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, serta menciptakan model bisnis yang lebih inovatif dan kompetitif.
Menurutnya, transformasi digital harus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, tidak hanya di tingkat daerah dan nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing UMKM Indonesia di kawasan ASEAN. (*/Ayu)
