KAI Usul Impor Kereta Bekas Atasi Krisis KRL, Ini Respons Komisi VI DPR

SOERATKABAR.COM, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengusulkan untuk kembali melakukan impor kereta rel listrik (KRL) bekas pakai dari luar negeri. KAI menilai langkah ini sebagai solusi darurat untuk mengatasi ancaman krisis atau kekurangan armada KRL Jabodetabek pada periode 2026 hingga 2029.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengungkapkan, armada KRL yang ada saat ini sudah memasuki usia kritis. Banyak di antaranya yang terpaksa harus dipensiunkan atau dikonservasi karena faktor usia dan keselamatan.

“Kereta Jepang ini sudah 45 tahun (di tahun 2028). Ketika trainset-trainset kita ini sudah berumur 45 tahun, 45 tahun ini kita sudah tidak bisa lagi. Satu, sparepart sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue (kelelahan logam),” ujar Bobby saat rapat dengan Komisi VI DPR, Jakarta, Senin (23/9/2026).

Ia menjelaskan hingga 2031, KAI harus mengganti sedikitnya 87 trainset KRL. Sementara itu, di 2026, KAI memproyeksikan bakal kekurangan hingga 22 trainset akibat keterlambatan pengiriman armada dan keharusan mengkonservasi 13 trainset lama.

Di sisi lain, kapasitas produksi dari industri dalam negeri, yakni PT INKA (Persero), saat ini belum sanggup memenuhi seluruh lonjakan kebutuhan tersebut secara mendadak. Meski PT INKA terus digenjot lewat Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk menaikkan kapasitas hingga 15-16 trainset per tahun, proses tersebut membutuhkan waktu.

Oleh karena itu, Bobby memandang opsi impor KRL tidak baru yang telah diperbarui (refurbishment) menjadi cara paling realistis untuk ‘menambal’ kekurangan armada dalam waktu cepat.

“Jadi salah satunya yang kami akan usulkan itu adalah kita tambal dulu, Pak, dengan melakukan impor, ya, itu kereta-kereta yang tidak baru. Yang memang secara historis ini bagus, kemudian sudah melakukan refurbishment Pak, kayak pesawat-lah gitu,” jelas Bobby.

Bobby memandang opsi tersebut sebagai solusi jangka pendek agar layanan KRL Jabodetabek tidak terganggu, mengingat target proyeksi penumpang harian bakal menembus 2,5 hingga 3 juta orang pada masa mendatang.

“Ini cara cepat, cara tepat yang bisa mengatasi kekurangan kapasitas di tahun 2026, 2027, 2028, sampai dengan 2029. Nah, sembari kita meningkatkan kapasitas produksi dari PT INKA,” pungkasnya.

Respons Komisi VI DPR

Merespons itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade merespons usulan itu. Lewat kesimpulan rapat, Andre mendukung langkah KAI.

“Memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian khususnya KRL Jabodetabek dengan meningkatkan industri lokal dan melakukan impor rangkaian kereta dan set bukan baru yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ucap Andre membaca kesimpulan rapat.

Namun demikian, Andre meminta agar sinergi dengan PT INKA tetap diperkuat. Sehingga, kata dia, PT INKA tetap bisa bersaing.

“Melakukan pengadaan sarana bukan baru sebagai solusi transisi dengan tetap memperkuat sinergi bersama PT INKA dengan meningkatkan (TRL) teknologi readiness level dan manufacturing readiness level PT INKA secara proper level 9 dalam kapasitas kualitas teknologi dan daya saing industri nasional,” ujar dia. (dtk)

Exit mobile version