JAKARTA – Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono menyebutkan apabila Indonesia hendak beralih dari status pandemi Covid-19 ke endemi maka pemerintah dan seluruh jajaran terkait harus memastikan capaian vaksinasi Covid-19 kepada target masyarakat sebesar 100 persen.
Hal tersebut ia sampaikan dalam Diskusi Webminar Polemik MNC Trijaya dengan tajuk ‘Bersiap Hidup Di Era Endemi’, Sabtu (13/3/2022).
“Situasi pandemi Covid-19 saat ini masih terjadi. Penularan masih ada, apakah tinggi atau rendah sulit diketahui kalau testing nya masih terbatas. Tapi Omicron ini penularan sangat tinggi. Kita lihat di Jawa dan Bali semua kasus terkonfirmasi sudah menurun,” ujar Pandu Riono.
Ia melihat rendahnya angka kasus Covid-19 di varian Omicron disebabkan imunitas masyarakat sudah cukup besar.
Baca juga: Epidemiolog Minta Pemerintah Targetkan Vaksinasi Capai 100 persen, Ini Alasannya
“Angka di rawat di rumah sakit dan meninggal jauh lebih rendah dibandingkan varian Covid-19 Delta. Kenapa bisa seperti itu, karena sebagian besar penduduk pernah terinfeksi sehingga memiliki imunitas tinggi, membentuk antibodi, dan vaksinasi sudah dilakukan sebagian besar penduduk,” kata Pandu Riono.
Ia menyebutkan target pemerintah yang hanya menargetkan vaksinasi Covid-19 di angka 70-90 persen tidak tepat dan seharusnya disasar 100 persen.
Baca juga: Komentar Epidemiolog soal Turis Gak Perlu Karantina saat Tiba di Bali
“Target vaksinasi harus nya 100 persen. Jangan ada 30 persen yang tertinggal. Survei November dan Desember, 90 persen penduduk Indonesia sudah imun sebagian besar di Jabodetabek paling tinggi, ini karena kombinasi pernah terinfeksi dan vaksinasi,” tutur Pandu Riono.
Ia mengingatkan bahwa masih ada 15 persen masyarakat Indonesia yang belum terinfeksi dan belum mendapatkan vaksinasi. Hal tersebut dikatakan dia berbahaya karena mereka rentan terinfeksi. Mereka adalah kelompok lansia dan komorbid yang masih naif, masih blank, tidak punya senjata imunitas.
“Kita masih akan melihat kematian, yang disebabkan komorbid kronis seperti gagal ginjal, jantung, kanker, dan sebagainya serta lansia,” tutur Pandu Riono.
Pandu Riono mengungkapkan apabila Indonesia mau mengakhiri pandemi Covid-19, kalau Indonesia ingin sebagai negara pertama di dunia atau di Asia yang ingin mengakhiri pandemi Covid-19.
“Tapi kalau kita amati dengan cermat, itu risiko bisa ditekan apabila dilakukan vaksinasi. Imunitas menjadi senjata kita untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Target harus setinggi-tingginya dan secepat-cepatnya,” ungkap Pandu Riono.
Baca juga: Muncul Varian Deltacron, Waspadai Gejala-Gejala Ini
Pemerintah disebutkannya baru sebagian bisa mengendalikan pandemi Covid-19, tapi masih beresiko jika ada varian baru Covid-19. Belajar dari negara Inggris yang dibebaskan Prokes nya, mereka kasus tinggi. Terutama anak Omicron BA2, seperti Hongkong, Cina, naik kasusnya karena kasus Covid-19.
“BA1-BA3 anaknya Omicron. Ini kita menghadapi virus yang terus berevolusi dan tidak bisa diprediksi. Ada faktor X dimana manusia memiliki keterbatasan. Oleh sebab itu imunitas menjadi penting. Kalau toh ada varian baru dan penularan baru, masyarakat dapat terminimalisir gejala berat dan meninggal,” lanjut Pandu Riono.
Baca juga: Siapkah Indonesia Beralih dari Pandemi ke Endemi? Kemenkes Beri Penjelasan
Pelonggaran Covid-19 masih uji coba di Bali dengan tidak ada karantina masih masa uji coba resiko yang sudah diukur dan dihitung.
“Bukan karena Mandalika. Tidak banyak yang terjadi, karena sebagian besar penularan itu di dalam bukan di luar negeri. Persyaratan bebas karantina adalah mereka yang sudah mendapatkan dosis lengkap vaksinasi Covid-19 bahkan booster,” jelasnya.
Setiap kasus pelonggaran dan pengetatan pandemi Covid-19 oleh pemimpin di pemerintah pusat. “Seharusnya mereka yang sudah booster untuk tidak wajib melakukan tes PCR, masyarakat kita baru memiliki kesadaran tinggi jika ada benefit. Ketahanan kita hanya dua vaksinasi pakai masker. Semua harus diperhitungkan dengan cermat, tapi kegiatan vaksinasi dan penggunaan masker harus tetap dilakukan dengan baik,” pungkas Pandu Riono.
Baca juga: Kasus Covid-19 Bertambah 14.900, Jawa Barat Tertinggi