“Berdasarkan data setelmen sampai dengan 17 Februari 2022 (ytd), nonresident beli neto Rp8,77 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp16,36 triliun di pasar saham,” ujar Erwin dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (18/2).
Hal ini membuat tingkat premi risiko Credit Default Swaps (CDS) Indonesia lima tahun naik dari 95,51 basis poin (bps) per 11 Januari 2022 menjadi 96,93 bps per 17 Februari 2022.
Sementara, tingkat imbal hasil (yield) SBN bertenor 10 tahun stabil level 6,50 persen. Sedangkan kenaikan terjadi pada yield surat utang AS, US Treasury 10 tahun ke level 1,962 persen.
“BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu,” terang Erwin.
Lebih lanjut, BI dan pemerintah juga akan memperkuat langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan, termasuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan. (cnni)













