SOERATKABAR.COM, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta duo Rusia dan China tidak ikut-ikutan perang melawan Iran. Trump mengancam akan terjadi hal buruk bila kedua negara itu terlibat.
Dirangkum detikcom, Sabtu (25/7/2026), Timur Tengah kembali memanas setelah AS melancarkan gelombang serangan terbarunya terhadap Iran beberapa hari lalu. Trump bahkan dilaporkan sedang mengkaji untuk melancarkan serangan terbaru secara besar-besaran terhadap Iran.
Skala operasi militer terbaru AS terhadap Iran ini disebut bisa melampaui serangan selama Operation Epic Fury yang dilancarkan awal tahun ini.
Trump menyampaikan hal tersebut, seperti dilansir Middle East Monitor, dalam wawancara terbaru dengan media AS Axios pada Kamis (23/7).
Dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan dirinya hampir mengambil keputusan terkait kemungkinan serangan besar-besaran AS tersebut. Namun, dia menegaskan bahwa belum ada keputusan final yang dibuat.
Trump Wanti-wanti Rusia dan China
Trump meyakini bahwa China atau Rusia tidak ‘berpartisipasi’ dalam perang Iran yang sedang berlangsung. Namun, Trump mengingatkan bahwa jika mereka terlibat ‘itu akan sangat buruk bagi mereka’.
“Presiden Xi, pada pertemuan kami baru-baru ini di Beijing, China, mengatakan kepada saya bahwa ia tidak akan, dalam keadaan apa pun, memberikan atau menjual senjata kepada Republik Islam Iran – dan pernyataan itu termasuk perusahaan-perusahaan China,” tulisnya di platform Truth Social miliknya, dilansir media Al Arabiya.
Trump mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin juga telah mengatakan kepadanya bahwa ia tidak akan menjual senjata ke Iran, dan ia percaya Rusia dan China tidak berpartisipasi dalam konflik Iran.
“Jika mereka melakukannya, itu akan sangat buruk bagi mereka – Tentu saja itu bukan untuk kepentingan terbaik mereka,” tulis Trump.
Amerika Serikat dan Iran telah berperang sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada bulan Februari lalu, menewaskan para pejabat senior Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara itu.
Empat orang yang mengetahui seluk-beluk intelijen AS mengatakan bahwa serangan Iran terhadap target CIA di Teluk pada awal perang, telah mendorong intelijen AS untuk menyelidiki apakah Rusia membantu Iran dengan informasi penargetan atau teknologi drone.
Amerika Serikat sebelumnya telah menjatuhkan sanksi kepada individu dan perusahaan di Rusia dan China karena membantu Iran membeli senjata. (dtk)













